<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5205793238492539959</id><updated>2011-04-21T20:29:50.709-07:00</updated><title type='text'>just for fun</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://elvin-javaseal.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5205793238492539959/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elvin-javaseal.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>blogger seal elvin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16303065177860049353</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5205793238492539959.post-2901904931659154377</id><published>2008-10-13T19:25:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T19:27:53.130-07:00</updated><title type='text'>sealover</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5205793238492539959-2901904931659154377?l=elvin-javaseal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elvin-javaseal.blogspot.com/feeds/2901904931659154377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5205793238492539959&amp;postID=2901904931659154377' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5205793238492539959/posts/default/2901904931659154377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5205793238492539959/posts/default/2901904931659154377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elvin-javaseal.blogspot.com/2008/10/sealover.html' title='sealover'/><author><name>blogger seal elvin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16303065177860049353</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5205793238492539959.post-4752471875525474450</id><published>2008-10-11T02:19:00.001-07:00</published><updated>2008-10-11T02:19:49.872-07:00</updated><title type='text'>makna puasa</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#242464;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;radisi puasa dalam kehidupan gereja Tuhan sesungguhnya                        telah terentang sejak gereja tampil di atas muka bumi.                        Bahkan secara teologis, gereja Tuhan telah mewarisi                        tradisi puasa dari umat Israel sebagaimana disaksikan oleh                        Alkitab Perjanjian Lama. Sehingga tradisi puasa dalam                        kehidupan jemaat Kristen Protestan bukan sekedar suatu                        ibadah yang mau “ikut-ikutan” misalnya dengan saudara kita                        yang beragama Islam. Juga kita tidak melaksanakan puasa                        karena gereja Roma Katolik telah melaksanakan ibadah puasa                        sejak dahulu. Demikian pula kita melaksanakan puasa bukan                        karena saudara-saudara seiman di gereja Pantekosta atau                        yang mengikuti aliran kharismatik sering melakukan ibadah                        “doa-puasa”. Kita melaksanakan puasa karena sesungguhnya                        puasa dipakai oleh Tuhan untuk melatih rohani kita agar                        spiritualitas kita makin terbuka untuk menghayati                        pertobatan sebagai sikap hidup.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Pertobatan yang dimaksud adalah agar kehidupan kita makin                        berkenan di hati Tuhan dan setia memelihara kekudusan                        hidup. Itu sebabnya makna pertobatan bukan terletak pada                        upacara lahiriah dan kebiasaan keagamaan, melainkan pada                        pertobatan hati. Yoel 2:13 berkata: “Koyakkanlah hatimu                        dan jangan pakaianmu”. Jadi yang dikehendaki oleh Tuhan                        dalam ibadah puasa adalah “hati yang mau dikoyakkan”                        sehingga kita menyesali dengan sungguh semua kesalahan dan                        dosa kita.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Tuhan tidak menghendaki pakaian atau baju yang dikoyak                        karena penyesalan terhadap suatu dosa. Sehingga percuma                        saja umat Israel mengoyakkan pakaian atau jubahnya ketika                        mereka menyesali kesalahan dan dosanya, tetapi ternyata                        hati mereka tetap keras dan mereka terus berkanjang dalam                        dosa. Bahkan tindakan mengoyakkan pakaian dalam pengertian                        ini dapat berarti hanya sekedar suatu bentuk kepura-puraan                        belaka, yang artinya sama dengan kemunafikan. Manakala                        umat dipanggil untuk mengoyakkan hati, berarti dimaksudkan                        agar kita diajak untuk mengalami kasih dan pengampunan                        Allah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab                        Yahweh adalah Allah yang pengasih dan penyayang, panjang                        sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena                        hukumanNya (ayat 13b).&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Namun pada sisi lain, nabi Yoel menegaskan bahwa Allah                        adalah Tuhan yang berdaulat penuh atas hidup manusia. Itu                        sebabnya di Yoel 2:14, diawali dengan perkataan “siapa                        tahu…” Dengan demikian Allah pada hakikatnya senantiasa                        bertindak berdasarkan keputusan dan kehendakNya yang                        berdaulat, dan tidak ada seorang pun dari manusia yang                        dapat mengendalikan Dia. Manusia tidak dapat mengendalikan                        atau mengatur kehendak Allah dengan berbagai doa dan                        puasanya. Karena itu saat kita berpuasa tidak boleh                        memiliki motivasi lain, selain sikap iman yang mau                        merendahkan diri secara total di hadapan Allah.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#242464;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;elalui puasa, selaku umat percaya kita ingin                        mengekspresikan sikap pertobatan. Sikap ini kita lakukan                        karena sikap bertobat harus dinyatakan dalam perbuatan,                        bukan sekedar rangkaian kata-kata yang saleh. Nabi Yoel                        mengajak umat Israel untuk bertobat dengan melakukan puasa                        yang kudus (Yoel 2:15). Wujud dari puasa yang kudus                        tersebut ternyata tidak hanya tertuju kepada pribadi atau                        perseorangan tertentu, tetapi tindakan puasa pada                        prinsipnya juga melibatkan seluruh elemen atau seluruh                        tingkat usia dan berbagai generasi dari umat Allah, yaitu:                        mereka yang tua, anak-anak, bayi yang masih menyusu,                        pengantin laki-laki dan perempuan, para imam, dan                        pelayan-pelayan Tuhan (Yoel 2:16-17). Mereka semua tanpa                        terkecuali dipanggil untuk menangis di antara balai depan                        dan mezbah sambil berkata: “Sayangilah, ya Tuhan umatMu,                        dan janganlah biarkan milikMu sendiri menjadi cela,                        sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka” (Yoel                        2:17). Jadi pertobatan yang dituntut oleh Allah bukan                        hanya ditujukan secara individual belaka, tetapi juga                        suatu pertobatan yang bersifat komunal, yaitu pertobatan                        sebagai umat Allah (kahal Yahweh). Itu sebabnya tindakan                        puasa sebagai wujud dari pertobatan umat diungkapkan oleh                        nabi Yoel dalam bentuk perintah (imperatif), yaitu:                        “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16).                      &lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Dalam memahami firman Tuhan yang diucapkan oleh nabi Yoel                        ini, justru dalam kehidupan kita sehari-hari, sering makna                        puasa hanya dihayati sebagai bentuk kesalehan pribadi.                        Padahal yang dikehendaki oleh Tuhan agar kita selaku                        pribadi dan selaku persekutuan umat seharusnya konsisten                        dalam memberlakukan kekudusan hidup. Itu sebabnya sejak                        dahulu selama masa Pra-Paskah gereja-gereja Tuhan                        senantiasa memotivasi dan memberlakukan puasa kepada                        seluruh anggota jemaat agar mereka selaku persekutuan yang                        telah ditebus oleh Kristus sungguh-sungguh mau setia untuk                        memelihara hidup kudus dengan sikap bertobat. Jadi makna                        puasa seharusnya dihayati sebagai masa yang khusus untuk                        mengakui segala kesalahan dan dosa pribadi dan umat.                        Sehingga kita sungguh-sungguh dapat berdamai dengan Allah                        yang akan memampukan kita untuk berdamai dengan diri                        sendiri dan berdamai dengan sesama.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#242464;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;aat kita berpuasa juga dapat kita pakai sebagai media                        untuk melatih dan mempertajam spiritualitas dan iman yang                        kita miliki. Sehingga setelah berpuasa, seharusnya kita                        dapat mengalami perubahan hidup; agar hidup kita menjadi                        lebih arif dalam menghadapi berbagai persoalan dan                        pergumulan yang terjadi. Hasil dari puasa adalah kemampuan                        spiritual untuk mengendalikan diri kita menjadi lebih                        optimal.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Sebagai sikap pertobatan, maka dalam mempraktikkan puasa                        seharusnya kita makin memiliki spiritualitas yang penuh                        kasih dan pengampunan kepada sesama. Tetapi bagaimana                        fenomena yang terjadi pada saat masa puasa di negara ini?                        Justru kita sangat prihatin karena dalam masa puasa di                        negara ini masih sering terjadi berbagai tindakan                        kekerasan fisik dan mental serta pengrusakan harta milik                        kepada sesama yang dianggap tidak “menghormati” mereka.                        Mereka merusak berbagai tempat seperti toko dan                        rumah-makan dari sesama yang sedang mencari nafkah dengan                        berjualan makanan dan minuman. Tempat-tempat tersebut                        dianggap oleh mereka dapat menggoda dan meruntuhkan “iman”                        orang yang sedang berpuasa sehingga harus dihancurkan.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Jika kita hayati masa berpuasa sebagai masa di mana kita                        mau menempuh hidup baru dengan bertobat, dan untuk itu                        kita secara serius mau melatih diri untuk mengendalikan                        keinginan serta hawa-nafsu; maka seharusnya kita merasa                        malu telah mempraktikkan kekerasan pada masa puasa.                        Manakala kita ingin membela kekudusan Allah, maka                        seharusnya kekudusan Allah tidak boleh dilepaskan dari                        kasihNya yang lembut. Karena itu menegakkan kekudusan                        Allah tidaklah dapat dibenarkan dengan penggunaan                        cara-cara kekerasan, sebab setiap cara penggunaan                        kekerasan selalu bertentangan dengan kasih dan                        pengampunanNya.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#242464;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;elain itu dalam menghayati sikap pertobatan, kita tidak                        boleh melakukan puasa secara demonstratif sehingga orang                        banyak mengetahui dan memberi pujian saat kita sedang                        berpuasa. Sebab makna pertobatan yang dikehendaki oleh                        Tuhan Yesus adalah “spiritualitas yang tersembunyi”.                        Maksud dari “spiritualitas yang tersembunyi” adalah sikap                        rohani yang tidak mencari nama, pujian atau penghargaan                        manusia. Karena itu di Mat. 6:1 Tuhan Yesus berkata:                        “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di                        hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian,                        kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga”.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Betapa sering sikap pertobatan dipraktikkan hanya sebagai                        suatu demonstrasi kerohanian di hadapan publik agar semua                        orang dapat melihat dan memberi pujian tentang bagaimana                        saleh kehidupan keagamaan mereka. Apabila mereka melakukan                        demonstrasi rohani yang demikian, seharusnya mereka perlu                        menyadari bahwa sesungguhnya mereka sudah mendapat upah                        atau hasilnya, yaitu pujian dari manusia. Tetapi sikap                        mereka yang demikian tidak akan pernah mendapat                        penghargaan dan pujian dari Allah, sebab Allah sebagai                        Bapa hanya melihat yang tersembunyi (Mat. 6:4).&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Allah hanya peduli kepada umatNya yang sungguh-sungguh                        merendahkan diri dan bertobat secara tulus serta tanpa                        mengasihi Dia tanpa syarat. Karena itu makna pertobatan                        yang benar di hadapan Allah bukanlah suatu publikasi                        berupa simbol-simbol sikap rohani yang ditampilkan secara                        sengaja dengan berdiri di tikungan-tikungan jalan (Mat.                        6:5), mengucapkan kalimat doa yang panjang bertele-tele                        (Mat. 6:7), atau menampilkan wajah yang kusam karena dia                        sedang berpuasa (Mat. 6:16). Makna pertobatan adalah sikap                        hati yang mau berubah di hadapan Allah, yang mana efek                        perubahan hidup itu dapat dirasakan oleh setiap orang di                        sekitarnya. Jadi umat yang bertobat tentunya tetap wajib                        berdoa dengan khusuk, berpuasa dengan kesungguhan hati,                        dan sikap yang ikhlas, serta beribadah di rumah Tuhan                        dalam semangat spiritualitas yang tersembunyi. Tetapi                        kemudian dalam hidup sehari-hari mereka mampu membuktikan                        buah pertobatan dalam kehidupan mereka. Jadi puasa dan                        berdoa sebenarnya hanyalah awal dari sikap bertobat,                        tetapi perubahan hidup merupakan wujud yang sesungguhnya                        dari pertobatan.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#242464;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;alah satu bentuk dari pertobatan adalah sikap yang tidak                        terbelenggu oleh harta, kekayaan dan uang. Itu sebabnya di                        Mat. 6:19, Tuhan Yesus berkata: “Janganlah kamu                        mengumpulkan harta di bumi; sebab di bumi ngengat dan                        karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta                        mencurinya”. Orang yang bertobat pada hakikatnya                        menyatakan bahwa hidupnya sepenuhnya milik Allah; jadi                        kehidupan orang percaya pada hakikatnya tidak lagi                        dimiliki oleh kuasa lain. Sehingga hati dan roh orang                        percaya hanya terarah kepada Allah. Sebaliknya orang yang                        tidak bertobat walau secara ritual dia telah banyak berdoa                        dan berpuasa, sesungguhnya dia masih dimiliki dan                        dibelenggu oleh kuasa dunia ini. Hatinya tetap melekat                        kepada kuasa dunia ini. Sehingga bagi mereka, makna puasa                        hanya dihayati sebagai “diet” terhadap makanan dalam kurun                        waktu yang cukup panjang.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Selama masa puasa mungkin mereka mampu menolak setiap                        makanan yang ada di depannya, tetapi mereka menjadi sangat                        serakah setelah puasa selesai. Juga mereka mungkin sangat                        taat untuk tidak menyentuh setiap makanan selama masa                        berpuasa, tetapi tak lama kemudian mereka merebut secara                        sewenang-wenang dengan tipu daya setiap “makanan” yang                        dimiliki oleh sesamanya. Dalam hal ini mereka berpuasa                        bukan karena mereka bertobat dan menyesali semua kesalahan                        atau dosanya, tetapi puasa dilakukan agar mereka dapat                        memperoleh pahala dari Tuhan dan dosa-dosa yang diperbuat                        sebelumnya diampuni. Kemudian pada tahun mendatang mereka                        berpuasa kembali agar Tuhan juga mau mengampuni dosa-dosa                        yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Dalam pemahaman yang demikian puasa telah dimanipulasi                        secara teologis untuk menyembunyikan dan melegalkan                        berbagai perbuatan dosa yang telah dilakukan. Mungkin                        mereka tidak menyadari manipulasi teologis tersebut karena                        mereka memiliki keyakinan dalam alam bawah sadar, bahwa                        puasa pasti mendatangkan pahala bagi yang melakukannya.                        Padahal sesungguhnya hati mereka tidak pernah bertobat,                        sebab jiwa dan roh mereka masih terikat oleh kuasa Mammon.&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Bukankah kita makin menyadari bahwa betapa sangat sulit                        bagi kita untuk melepaskan diri dari kuasa Mammon? Mungkin                        kita cukup mampu berpuasa untuk tidak makan pada saat                        tertentu, tetapi kita sering gagal melepaskan diri dari                        kuasa harta dan uang yang kita miliki. Sehingga benarlah                        perkataan Tuhan Yesus yang berkata: “Karena di mana                        hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21).                      &lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#242464;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;elaku umat percaya kita dipanggil oleh Tuhan agar kita                        berpuasa untuk melawan kuasa Mammon. Sehingga makna puasa                        dalam pengertian ini adalah berarti melawan dengan rahmat                        dan anugerah Allah segala bentuk nafsu konsumerisme dan                        dorongan materialisme, sehingga hidup kita tertuju hanya                        untuk mempermuliakan namaNya. Jika demikian, sampai sejauh                        mana kita telah mempraktikkan spiritualitas yang bebas                        dari keterikatan dengan harta milik dan kuasa Mammon?&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;                      Sebenarnya ketika kita mampu melepaskan diri dari                        keterikatan dari harta milik dan kuasa Mammon, saat itu                        kita telah mempraktikkan puasa dalam pengertian yang                        sesungguhnya. Sehingga mungkin kita tidak pernah “diet”                        makanan selama masa berpuasa, tetapi sesungguhnya jiwa dan                        roh kita telah berpuasa sebab terbukti kita telah mampu                        menolak segala keinginan dan hawa nafsu dunia ini. Jadi                        bagaimanakah sikap hidup saudara pada saat ini? Apakah                        kita kini makin dapat menghayati makna hari Rabu Abu                        sebagai sikap pertobatan agar hidup kita seluruhnya tidak                        lagi dibelenggu oleh kuasa dunia ini? Jika kita telah                        hidup dalam pertobatan, apakah kita kini mau memberlakukan                        kasih dan pengampunan Allah secara nyata kepada setiap                        orang? Saat kita berpuasa dengan tulus, apakah                        spiritualitas kita makin menjadi jernih sehingga kita                        makin dapat merasakan dengan penuh empati setiap orang                        yang sedang menderita dan kelaparan? Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5205793238492539959-4752471875525474450?l=elvin-javaseal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elvin-javaseal.blogspot.com/feeds/4752471875525474450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5205793238492539959&amp;postID=4752471875525474450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5205793238492539959/posts/default/4752471875525474450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5205793238492539959/posts/default/4752471875525474450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elvin-javaseal.blogspot.com/2008/10/makna-puasa.html' title='makna puasa'/><author><name>blogger seal elvin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16303065177860049353</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5205793238492539959.post-6725569574109911899</id><published>2008-10-09T01:40:00.000-07:00</published><updated>2008-10-09T01:41:49.996-07:00</updated><title type='text'>makna sUmPah PemuDa</title><content type='html'>&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;h2 style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;a href="google.com"&gt;Makna Sumpah Pemuda&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="google.com"&gt;&lt;small style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;In &lt;/small&gt;&lt;/a&gt;&lt;small style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a title="Lihat seluruh tulisan dalam Artikel" rel="category tag"&gt;Artikel&lt;/a&gt; on &lt;strong&gt;Nopember 3, 2007&lt;/strong&gt; at &lt;strong&gt;1:13 am&lt;/strong&gt;&lt;/small&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;               &lt;div style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0); text-align: center;" class="entry"&gt;&lt;div&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" class="snap_preview"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="google.com"&gt; Nama Indonesia adalah sebuah sejarah panjang dari masyarakat kita, ia muncul sebagai perekat yang mempersatukan seluruh komponen masyarakat guna ke luar dari belenggu penjajahan untuk menggapai kemerdekaan.&lt;span id="more-11"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="google.com"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt; Masyarakat Indonesia terdiri dari individu. Individu yang memiliki latar belakang agama dan suku yang berbeda. Ratusan suku tersebar dari Sabang hingga Marauke. Tiap-tiap suku memiliki ciri yang berbeda namun juga memiliki beberapa kesamaan. Kesamaan-kesamaan inilah yang menjadi landasan identitas nasional.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="google.com"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt; Indonesia sebagai identitas nasional. Ketika para pemuda mengikrarkan sebuah sumpah yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda di dalamnya nama Indonesia dipakai sebagai perekat atau identitas pemersatu seluruh komponen pemuda dari berbagai suku dan agama untuk memperjuangkan sebuah tanah air, bangsa dan bahasa yang satu yakni Indonesia.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="google.com"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt; Kalau kita lihat isi dari Sumpah Pemuda adalah bahwa para pemuda dan pemudi Indonesia menyatakan satu tekadnya dalam bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia. Dari isi Sumpah Pemuda ini dapat disimpulkan bahwa kata Indonesia sudah digunakan secara lugas dan tegas untuk menunjukkan identitas nasional yakni tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="google.com"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt; Dengan nama Indonesia segala keanekaragaman suku, budaya, bahasa, dan agama menjadikan kita untuk saling bergandengan tangan mengisi kemerdekaan dan menjaga keutuhan bangsa.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Oleh: Ibu Salmawati, S.Pd.  Guru SMPK St. Paulus&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;                      &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5205793238492539959-6725569574109911899?l=elvin-javaseal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elvin-javaseal.blogspot.com/feeds/6725569574109911899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5205793238492539959&amp;postID=6725569574109911899' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5205793238492539959/posts/default/6725569574109911899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5205793238492539959/posts/default/6725569574109911899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elvin-javaseal.blogspot.com/2008/10/makna-sumpah-pemuda.html' title='makna sUmPah PemuDa'/><author><name>blogger seal elvin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16303065177860049353</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
